Selamat Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah

Bagi kita umat Islam selain menggunakan tahun miladiah yang sering disebut tahun masehi, juga tidak boleh mininggalkan tahun qamariah yang disebut dengan tahun hijriyah. Mengapa demikian…? Karena segala yang berkaitan dengan Ibadah umat islam patokannya adalah kalender hijriyah. Demikian juga berkaitan dengan hari-hari besar umat islam semua berpatokan pada kalender hijriyah ini. Sebagi contohnya Puasa ramadhan, idul fitri, idul adha, puasa senin kamis, puasa yaumul bidh, puasa arafah, puasa asura,dan lain-lain semua berpatokan pada kalender hijriyah.

Karena pentingnya tahun hijriyah ini maka sebagai umat islam kita harus tahu tentang seluk beluknya. Paling tidak kita harus tahu nama-nama bulan hijriyah dan urutannya. Banyak dari kita yang lupa atau bahkan tidak tahu nama-nama bulannya sehingga ketika kita mau beribadah yang kita lihat adalah kalender masehi, yang tentu saja waktu ibadah tersebut akan berubah-ubah, karena adanya selisih waktu antara tahun qmariyah dan tahun masehi.

Masih ingat nama-nama bulan hijriyah dalam satu tahun…? Mari kita coba ingat kembali…1. Muharram, 2. Shafar, 3. Rabiul Awal, 4. Rabiuts Tsani, 5. Jumadil Uula, 6. Jumadits Tsaniyah, 7. Rajab, 8. Sya’ban, 9. Ramdhan, 10. Syawal, 11. Dzul Qa’dah, 12. Dzul Hijjah. Itulah nama-nama bulan dalam tahun hijriyah yang jumlahnya 12 bulan sama dengan jumlah bulan dalam tahun masehi.

Sejak kapan tahun hijriyah ada…?

Sebelum penanggalan hijriyah ditetapkan, masyarakat Arab dahulu menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan tahun. Tahun renovasi Ka’bah misalnya, karena pada tahun tersebut, Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. Tahun fijar, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun fiil (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Oleh karena itu kita mengenal tahun kelahiran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan istilah tahun fiil/tahun gajah. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.” Untuk acuan bulan, mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan)

Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan khalifah Abu Bakr Ash-Sidiq radhiyallahu’anhu. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu, ditetapkan kalender hijriyah yang menjadi pedoman penanggalan bagi kaum muslimin.

Siapa yang menetapkan Tahun Hijriyah…?

Pembukaan Lomba CCAI 1441 H

Berawal dari surat-surat tak bertanggal, yang diterima Abu Musa Al-Asy-‘Ari radhiyahullahu’anhu; sebagai gubernur Basrah kala itu, dari khalifah Umar bin Khatab. Abu Musa mengeluhkan surat-surat tersebut kepada Sang Khalifah melalui sepucuk surat yang isinya, “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Karena kejadian inilah kemudian Umar bin Khatab mengajak para sahabat untuk bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan bagi kaum muslimin.

Dalam Musyawarah banyak usulan tentang kapan dimulainya tahun hijriyah. Sebagian sahabat mengusulkan, awal tahun hijriyah dimulai sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagian lagi mengusulkan sejak pertama turunnya wahyu, serta ada juga yang mengusulkan pada saat Nabi Muhammad wafat. Tapi kemudian berdasarkan kesepakatan, tahun hijriyah dimulai sejak hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Ini merupakan usulan  dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Usulan ini diterima Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu dengan alasan  Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil.

Allahu A’lam….

Dari berbagai sumber

ABD.

One response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *