Kunci Keberhasilan Guru . . ??

Kegiatan Belajar Mengajar Matsaka 2019/2020

Sering kita mendengar keluhan para  guru “anak diajar kok gak bisa-bisa…!” Ada lagi yang bilang “Warahono ping seket yo ra bakal iso..!” (bhs. Jawa). Bahkan yang lebih sadis lagi kalau ada yang bilang “ Kamu itu memang murid bodoh…!.

Itulah sederatan kata-kata yang dilontarkan sebagian dari para pengajar yang mungkin sebenarnya untuk menutupi kekurangan dirinya. Mereka tidak mau intropeksi diri apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan belajar mengajarnya. Sudah tepatkah materi yang diajarkan ? sudah paskah metode yang diterapkan ? Seberapa dalam penguasaan terhadap materi yang diajarkan ? Seberapa matang jiwa/ ruh sebagai seorang pendidik ? inilah sebenarnya sederetan pertanyaan sebagai evaluasi diri para guru.

Dalam suatu majlis pengajian yang penulis ikuti, ustadz mengatakan:

الطريقة أهم من المادة, والمدرس أهم من الطريقة, وروح المدرس أهم من كل شيء

“At-Thariqatu ahammu min Al-maadah wa mudarris ahammu min at-thariqah wa ruuh al-mudarris ahammu min kulli syain”

Artinya: Metode itu lebih penting dari materi, dan Guru itu lebih penting dari metode, dan Ruh seorang Guru itu yang terpenting dari semuanya.

Inilah sebenarnya yang harus dipedomani oleh seorang guru. Guru merupakan unsur yang sangat penting dalam pendidikan. Kualitas diri guru baik dari segi keilmuan maupun ruhaniyah sangat menentukan dalam keberhasilan mengajarnya.

Dalam KBM Materi merupakan hal yang sangat penting. Materi inilah yang akan didapat oleh para murid dalam pembelajaran. Materi merupakan makanan pokok utama dalam pembelajaran. Akan tetapi metode lebih penting dari materi. Metode adalah cara penyajian materi. Metode adalah cara menyampaikan materi itu, sehingga murid faham dan merasa bahwa mereka mendapat ilmu baru. Materi yang berat sekalipun, akan terasa ringan jika cara penyampaiannya sederhana dan tepat. Tapi materi ringan sekalipun, justru akan terasa sulit jika metode penyampaiannya salah. Materi yang sama butuh metode yang berbeda untuk disampaikan kepada murid yang berbeda dari segi kecerdasan maupun usia.

Seorang guru memberi  nasihat : “Kalau ada murid yang ndak faham, jangan buru-buru dimarahi. Itu pasti karena metode kalian ada yang salah. Kalau murid Bodoh, itu bukanlah pura-pura. Mereka betul-betul tidak tahu. Kita sebagai Guru yang harus mau mengerti. Karena Guru itu sudah pernah jadi murid, sedangkan murid belum pernah jadi Guru….Camkan itu…

Guru lebih penting dari methode. Guru adalah pelaku utama dalam pembelajaran. Sedangkan metode adalah sesuatu yang dilakukan oleh Guru. Kalau seorang Guru itu betul mengajarnya, betul methodenya, menguasai objek materinya, Maka tingkat keberhasilannya Insya Allah besar. Sebaliknya apabila Guru datang sembarangan, masuk kelas cuma setor muka saja kemudian menyuruh salah satu muridnya menulis di papan tulis kemudian murid yang lain menyalinnya di buku tulis atau guru masuk kelas sekedar memberi tugas kepada murid untuk mengerjakan LKS, Sedangkan dia sendiri malah makan di kantin sekolah, lalu roko’an, lalu masuk lagi ke kelas mengambil bahan ajarnya, Maka nonsen akan berhasil dalam pembelajaran.

Pribadi guru semacam ini biasanya baru semangat tergopoh-gopoh kalau berurusan dengan  sertifikasi.  Dia akan segera membuat persiapan mengajar secara mendadak supaya gajinya naik, kesejahteraanya meningkat. Agar tidak ketinggalan dengan yang lain dalam pencairannya.  Sampai-sampai ada yang mengatakan, Ini Guru atau sertifikator?? Maka kalau ingin memperbaiki dunia pendidikan, maka perbaiki dulu kualitas Gurunya. Jangan harap murid akan berprestasi dan berakhlaq mulia, kalau Gurunya kebanyakan cuma sertifikator saja ….

Lomba Baca Al-Qur’an

Jadi ruh seorang Guru itu lebih penting dari semuanya. Guru sebenarnya bukanlah pekerjaan, akan tetapi dia adalah panggilan jiwa. Oleh karena itu guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Menjadi Guru itu mulia, lebih mulia dari logam mulia emas dan berlian sekalipun. Guru mendidik murid-muridnya yang merupakan makhluk hidup yang berakal budi. Kesuksesan seorang guru itu apabila ia bisa mengantarkan muridnya ke gerbang cita-cita dengan dilandasu dengan akhlaq yang mulia. Itulah kebahagiaan dan kebanggaan yang bisa dirasakan…..

Guru adalah cermin bagi murid-muridnya. Dalam sebuah pribahasa dikatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Maka Ruh seorang Guru perlu dibangun. Guru tidak  pernah kenal istilah pensiun. Kalau toh harus pensiun hanyalah kedinasannya saja. Dalam jiwanya  pasti tetap ada keinginan mengajar, meski tanpa di bayar sekalipun.

Allahu A’lam…

ABD

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *