Datangnya tahun baru menunjukkan adanya pergantian satuan waktu yang merupakan momentum bagi kita untuk bermuhasabah. Momentum seperti pergantian tahun ini menjadi sarana yang memudahkan kita untuk mengevaluasi diri terutama dalam beramal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al Hasyr: 18)

Pada ayat tersebut paling tidak ada 4 hal yang harus kita perhatikan yaitu:

1. Muahadah (Janji)

Surat Al Hasyr ayat 18 ini adalah ayat yang memerintahkan kita untuk melakukan muhasabah. Namun Allah mengawalinya dengan perintah taqwa. Karena taqwa inilah janji kita.

Sebelum lahir ke dunia, kita telah diambil janji setia kepada Allah. Kita semua lupa perjanjian di alam ruh itu, tapi Al Quran mengingatkan kita.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS. Al A’raf: 172)

2. Muhasabah (evaluasi diri)

Kita telah berjanji setia kepada Allah untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Kita kemudian diingatkan untuk mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dalam rangka memenuhi janji itu, sebagai bekal untuk masa depan.

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); (QS. Al Hasyr: 18)

Ghadd (غد) yang dimaksud dalam ayat ini menurut para mufassir artinya adalah akhirat. Hari esok kita di akhirat kelak. Masa depan kita di akhirat nanti.

Maka hendaklah kita melakukan muhasabah, mengevaluasi, apa yang telah kita lakukan untuk akhirat kita. Jika di sekolah diadakan evaluasi atau penilaian sejauh mana ketercapaian materi ajar, kita yang mengejar akhirat lebih berhak untuk melakukan muhasabah. Agar tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, dan agar tahun depan lebih baik dari tahun ini. Untuk masa depan kita di akhirat nanti.

Mari kita melakukan muhasabah. Jika tahun ini sholat kita ada yang bolong, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan sholat lima waktu kita lengkap. Jika tahun ini sholat lima waktu kita telah lengkap tapi belum berjamaah, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, berjanji, agar tahun depan sholat lima waktu kita berjamaah. Jika tahun ini kita sudah sholat berjamaah tapi sering jadi makmum masbuk, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan kita tidak sering lagi menjadi makmum masbuk.

Demikian pula puasa kita. Jika tahun ini puasa Ramadhan kita ada yang bolong, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan puasa Ramadhan kita lengkap.

Demikian pula tilawah Quran kita. Jika tahun ini kita belum bisa membaca Al Quran setiap hari, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan kita lebih dekat dengan Al Quran dan bisa membacanya setiap hari.

Demikian pula sedekah kita. Jika tahun ini kita jarang sedekah, kita perlu membuat target, berjanji kepada Allah, muahadah, agar tahun depan kita lebih banyak bersedekah dan lebih banyak membantu sesama.

3. Muqarabah (mendekatkan diri kepada Allah)

Setelah menyerukan muhasabah, Allah mengikutinya dengan kembali menyerukan taqwa. Wattaqullah. Dan inilah satu-satunya ayat dalam Al Quran yang di dalamnya ada dua perintah taqwa.

Ini mengisyaratkan bahwa muhasabah itu sangat penting. Dan muhasabah itu harus membuat kita semakin dekat dengan Allah, muqarabatullah. Wattaqullah.

4. Muraqabah (Pengawasan)

Ayat ini kemudian ditutup dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al Hasyr: 18)

Khabir (خبير) biasa diterjemahkan menjadi Maha Mengetahui. Namun kekhususan sifat Khabir ini, Allah Maha Mengetahui sekaligus akan mengabarkan di akhirat nanti. Allah Maha Mengetahui segala yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan Allah akan mengabarkan itu di yaumi hisab (hari perhitungan amal), yaumil mizan (hari amal ditimbang).

Apa pun yang kita lakukan. Apakah dalam kesendirian atau di tengah keramaian. Apakah tersembunyi atau terang-terangan. Allah mengetahui semuanya dan kelak di akhirat akan ditampilkan-Nya kepada seluruh manusia. Bahkan amalan hati pun Allah mengetahuinya.

Allahu a’lam.

Abd.

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *